Beranda | Artikel
Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah
8 jam lalu

Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 26 Rabiul Awal 1448 H / 8 September 2026 M.

Kajian Tentang Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah

Kalimat laa ilaaha illallah memiliki dua rukun. Pertama, nafi yang ditunjukkan oleh kalimat la ilaha, yaitu peniadaan. Kedua, itsbat yang ditunjukkan oleh kalimat illallah, yaitu penetapan.

Maknanya adalah meniadakan seluruh sesembahan dan menetapkan bahwa yang berhak diibadahi hanya Allah. Ilah dalam bahasa Arab berarti ma’bud, yaitu sesuatu yang diibadahi.

Dengan demikian, makna laa ilaaha illallah yang benar adalah tidak ada yang diibadahi dengan benar kecuali Allah. Selain Allah bukan sesembahan yang benar.

Hak dan Kewajiban Kalimat Tauhid

Setelah keutamaan kalimat tauhid dijelaskan, kewajiban seorang muslim adalah memahami dan mengenal syarat-syaratnya. Kalimat laa ilaaha illallah tidak akan diterima hanya dengan ucapan lisan, tanpa memahami makna dan tuntutan yang terkandung di dalamnya.

Bahkan, banyak orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah, tetapi justru terjerumus ke dalam pembatal-pembatal kalimat tauhid. Kalimat ini harus disertai pelaksanaan hak dan kewajibannya, yaitu beribadah hanya kepada Allah dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Baik itu ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Contohnya adalah doa, tawakal, dan khusyuk.

Sebagian orang yang mengagungkan kuburan tampak sangat khusyuk ketika berada di sana, disertai pengagungan yang luar biasa. Kekhusyukan yang disertai pengagungan seperti itu hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ironisnya, ketika berada di kuburan mereka sangat khusyuk, sedangkan dalam shalat justru tidak demikian. Orang yang memalingkan ibadah kepada selain Allah akan dipalingkan dari ibadah kepada Allah. Kekhusyukan dalam shalat, yang disertai pengagungan dan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tercabut darinya.

Ketika berada di kuburan, mereka menunjukkan kekhusyukan, pengagungan, dan rasa cinta kepada mayat-mayat tersebut. Subhanallah. Sungguh nikmat ketika Allah menyelamatkan seseorang dari kesyirikan.

Syarat-Syarat Kalimat Tauhid

Syarat-syarat laa ilaaha illallah juga wajib dipenuhi sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an dan sunnah. Setiap muslim mengetahui bahwa setiap ketaatan memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Shalat, misalnya, memiliki syarat sah, di antaranya menghadap kiblat, berwudhu, dan menutup aurat. Jika seseorang sengaja shalat tanpa menghadap kiblat atau shalat dalam keadaan berhadas, shalatnya tidak sah. Haji juga memiliki syarat-syarat. Semua ibadah tidak diterima kecuali apabila syarat-syaratnya terpenuhi.

Demikian juga kalimat laa ilaaha illallah memiliki rukun, syarat, dan pembatal. Para ulama salaf (sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin) telah mengisyaratkan pentingnya memperhatikan syarat-syarat kalimat tauhid.

Perkataan Al-Hasan Al-Bashri

Al-Hasan Al-Bashri, seorang tabiin, pernah ditanya tentang perkataan bahwa siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallah pasti masuk surga. Beliau menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan melaksanakan hak serta kewajibannya dapat masuk surga.

Adapun orang yang hanya mengucapkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak melaksanakan hak dan kewajibannya, ucapannya tidak bermanfaat baginya.

Al-Hasan Al-Bashri juga pernah berkata kepada Al-Farazdaq ketika ia sedang menguburkan istrinya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk kematianmu?” Al-Farazdaq menjawab bahwa ia telah mempersiapkan syahadat laa ilaaha illallah sejak tujuh puluh tahun sebelumnya.

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa hal itu merupakan persiapan yang paling bagus. Namun, ia mengingatkan bahwa laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Al-Hasan Al-Bashri kemudian mengingatkan untuk menjauhi tuduhan zina terhadap wanita-wanita baik.

Perkataan Wahab bin Munabbih

Wahab bin Munabbih, seorang tabiin, juga pernah menjelaskan kepada seseorang yang bertanya apakah laa ilaaha illallah merupakan kunci surga.

Laa ilaaha illallaah adalah kunci surga. Namun, setiap kunci harus memiliki gigi. Kunci yang polos tidak dapat digunakan untuk membuka pintu. Demikian pula, kalimat tauhid memiliki gigi, yaitu syarat-syaratnya. Jika seseorang datang membawa kunci yang memiliki gigi, surga akan terbuka baginya. Sebaliknya, jika kuncinya tidak memiliki gigi, surga tidak akan terbuka. Yang dimaksud dengan gigi kunci di sini adalah syarat laa ilaaha illallaah.

Dalil Istiqra (penelitian) dalam Menetapkan Syarat

Para ulama meneliti nash-nash Al-Qur’an dan hadits. Berdasarkan penelitian itu, mereka menetapkan bahwa laa ilaaha illallaah tidak diterima kecuali dengan tujuh syarat.

Penelitian seperti ini disebut istiqra. Dalil tidak hanya berupa nash Al-Qur’an dan hadits, tetapi juga hasil penelitian terhadap keduanya. Pembagian shalat menjadi shalat wajib dan shalat sunnah, serta pembagian shalat sunnah menjadi muqayyadah dan mutlak, ditetapkan melalui istiqra. Demikian pula, dalam ilmu nahwu, kalam dibagi menjadi isim, fi’il, dan harf berdasarkan penelitian.

Para ahli ushul fikih menggunakan istiqra dalam menetapkan kaidah-kaidah ushul fikih. Istiqra terbagi menjadi dua. Pertama, istiqra tam, yaitu penelitian sempurna dengan meneliti seluruh dalil yang berkaitan dengan suatu permasalahan tanpa terkecuali. Kedua, istiqra naqish, yaitu penelitian yang hanya meneliti sebagian dalil. Istiqra naqish tidak digunakan para ulama karena hasil penelitian yang kurang tentu juga kurang.

1. Ilmu

Syarat pertama adalah ilmu tentang makna laa ilaaha illallaah, yang meniadakan kebodohan. Orang yang mengucapkannya harus memahami maknanya. Jangan sampai seseorang mengucapkan laa ilaaha illallaah tanpa mengetahui maknanya.

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mereka berkata, ‘Apakah dia hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.’” (QS. Shad [38]: 5)

Kaum musyrik Quraisy menolak mengucapkan laa ilaaha illallaah karena mereka memahami maknanya, yaitu bahwa yang berhak diibadahi hanya Allah dan tidak boleh ada sesembahan yang banyak. Pada zaman sekarang, sebagian orang mengucapkan laa ilaaha illallaah, tetapi masih beribadah kepada selain Allah, seperti kuburan dan jimat.

Ilmu yang dimaksud ialah ilmu yang menghilangkan keraguan. Jika seseorang masih ragu, berarti ia belum memiliki ilmu.

2. Keyakinan yang Menghilangkan Keraguan

Syarat kedua adalah yakin, yaitu keyakinan yang meniadakan keraguan. Keyakinan tidak mungkin diperoleh tanpa ilmu. Ketika seseorang memiliki ilmu, akan muncul keyakinan. Semakin kuat ilmu seseorang, semakin kuat pula keyakinannya.

3. Ikhlas

Syarat ketiga adalah ikhlas, yaitu keikhlasan yang meniadakan kesyirikan.

4. Jujur

Syarat keempat adalah jujur, yaitu kejujuran yang meniadakan kedustaan. Ketika mengucapkan laa ilaaha illallaah, seseorang harus mengucapkannya dengan penuh kejujuran dari hati, bukan berpura-pura seperti orang munafik.

5. Cinta

Syarat kelima adalah cinta, yaitu kecintaan yang meniadakan kebencian. Seorang muslim tidak mungkin membenci Allah dan tidak mungkin membenci laa ilaaha illallaah serta tauhid. Orang yang membenci tauhid patut diragukan keimanannya.

6. Ketundukan

Syarat keenam adalah ketundukan, yaitu ketundukan yang meniadakan pembangkangan. Seseorang harus patuh dan tunduk kepada tuntutan laa ilaaha illallaah.

7. Menerima

Syarat ketujuh adalah menerima, yaitu penerimaan yang meniadakan penolakan.

Gambaran Tujuh Syarat dalam Kehidupan

Tujuh syarat tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hendak mencukur rambut, seseorang terlebih dahulu harus memiliki ilmu bahwa tukang cukur yang dipilih memang pandai mencukur. Setelah mengetahui hal itu, ia datang dengan yakin dan meminta rambutnya dicukur.

Karena sudah yakin, ia menerima arahan tukang cukur mengenai model rambut yang sesuai. Ketika diminta memiringkan kepala ke kanan atau ke kiri, ia pun patuh. Semua itu dilakukan dengan keikhlasan dan kejujuran. Setelah hasil cukurannya bagus, tumbuh rasa cinta sehingga ia ingin kembali lagi. Tujuh hal tersebut tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Kesempurnaan Tauhid dan Realisasi Tujuh Syarat

Kesempurnaan tauhid seseorang bergantung pada realisasi tujuh syarat kalimat laa ilaaha illallah. Semakin sempurna seseorang merealisasikan ketujuh syarat tersebut, semakin sempurna tauhidnya. Sebaliknya, kekurangan dalam merealisasikannya menunjukkan kekurangan tauhid.

Urutan tujuh syarat itu dimulai dari ilmu yang melahirkan keyakinan. Keyakinan melahirkan penerimaan, lalu ketundukan dan kepatuhan. Ketundukan dan kepatuhan disertai keikhlasan serta kejujuran, kemudian cinta yang meniadakan kebalikannya.

Seseorang bisa saja berilmu dan memiliki keyakinan yang kuat tentang laa ilaaha illallah, tetapi keikhlasannya masih kurang karena masih suka riya. Ketundukannya juga kurang apabila masih mengikuti hawa nafsu dan melakukan maksiat. Semakin kuat ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah, semakin sempurna tauhidnya.

Kesempurnaan tauhid berpengaruh terhadap kesempurnaan seseorang masuk surga. Orang yang masuk surga terbagi menjadi tiga: masuk surga tanpa hisab dan azab; masuk surga setelah dihisab tanpa diazab; serta masuk surga setelah dihisab dan diazab, kemudian diangkat dari neraka dan dimasukkan ke surga. Perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan kesempurnaan tauhid.

Tauhid yang Menghancurkan Dosa

Semakin sempurna tauhid dan laa ilaaha illallah seseorang, semakin kuat kalimat itu menghancurkan dosa. Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa apabila seorang anak Adam datang membawa dosa sepenuh bumi, lalu meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah, Allah akan mendatanginya dengan ampunan sepenuh bumi.

 يَا ابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَو أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, kalau kamu datang kepada-Ku membaca dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi.” (HR. At-Tirmidzi)

Lihat juga: Hadits Arbain Ke 42 – Tiga Hal Yang Bisa Menghapuskan Dosa

Hadits tersebut berlaku bagi orang yang sempurna tauhidnya. Semakin kurang sempurna tauhid seseorang, semakin kurang pula kemampuannya untuk menghancurkan dosa. Karena itu, ia mungkin harus dibakar terlebih dahulu di dalam neraka.

Menganggap ringan neraka dengan alasan akan masuk surga setelah tinggal di dalamnya sehari atau dua hari merupakan penipuan terhadap diri sendiri. Seseorang perlu memikirkan lamanya satu hari di neraka. Ia juga tidak mengetahui apakah akan dijamin meninggal dalam keadaan bertauhid.

Sebagian orang meremehkan maksiat karena tertipu oleh pemahaman bahwa orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah pasti masuk surga. Padahal, jika seseorang terus-menerus berbuat dosa, dosa itu dapat menjerumuskannya kepada kesyirikan dan kekufuran. Para ulama mengatakan bahwa maksiat merupakan corong menuju kekufuran.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian Tentang Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56538-syarat-syarat-laa-ilaaha-illallah-2/